<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6744593607148753084</id><updated>2011-08-01T10:35:41.860-07:00</updated><title type='text'>Segala Sesuatu Tentang Kota Lawang</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://lawangkota.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744593607148753084/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lawangkota.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Segala Sesuatu Tentang Kota Lawang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16372837825735224479</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6744593607148753084.post-6870209154401517821</id><published>2009-09-28T18:34:00.000-07:00</published><updated>2009-09-28T18:35:34.793-07:00</updated><title type='text'>HOTEL NIAGARA - MASKOT KOTA LAWANG</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Di kota Lawang ada                          sebuah hotel tua berlantai lima yang dibangun pada 1918.                          Di kompleks hotel ada semacam prasasti beraksara Tiongkok                          yang menyatakan tahun pendirian hotel. Usia Hotel Niagara                          sudah 89 tahun. Arsiteknya Fritz Joseph Pinedo, pria berdarah                          Brasil yang hidup di Indonesia pada masa pendudukan Belanda.&lt;br /&gt;                        Hotel Niagara memang masih belum apa-apa. Dibandingkan                          dengan hotel-hotel modern (berbintang), standar pelayanan                          dan fasilitas di Di Hotel Niagara kita bisa menikmati                          sepuas-puasnya arsitektur tempo doeloe yang sangat menekankan                          pendekatan seni. Sebuah kombinasi gaya Brasil, Belanda,                          Tiongkok, dan Victoria yang menawan.&lt;br /&gt;                        Namun, hotel tua ini menawarkan keindahan, sensasi, tersendiri                          dari bentuk konstruksinya yang eksotik dan antik. &lt;/div&gt;                       &lt;p align="justify"&gt;Image yang berkembang kurang positif.                          Ada hantunya. Tempat orang bunuh diri. Kamar berdarah.                          Hingga tempat penimbunan senjata-senjata tradisional.                          Image ini makin kuat karena Hotel Niagara sempat mangkrak                          cukup lama. Kini pun dua lantai teratas (lantai 4 dan                          5) selalu gelap karena belum dipakai.&lt;/p&gt;                       &lt;p align="justify"&gt;Tarif yang diberikan cukup murah untuk                          ukuran hotel yang boleh dibilang paling bersejarah di                          kawasan Malang Raya. Kamar ‘mewah’ cukup Rp                          90 ribu dan Rp 150 ribu. Khusus di lantai 3, yang kamar                          mandinya di luar, tarif semalam Rp 60 ribu. Padahal, di                          Kota Malang tarif hotel melati berfasilitas paling minim,                          kamar mandi luar, minimal Rp 80 ribu.&lt;/p&gt;                       &lt;p align="justify"&gt;Hotel Niagara awalnya dirancang sebagai                          vila pribadi milik keluarga Liem Sian Joe, pengusaha Tionghoa                          kaya pada era Hindia Belanda. Perlu kerja keras dan biaya                          besar untuk renovasi total.&lt;/p&gt;                       &lt;p align="justify"&gt;Gedung setinggi 35 meter ini dibangun                          arsitek Fritz Joseph Pinedo selama 15 tahun sejak 1918.                          Di masa itu Lawang dan sekitarnya memang masih merupakan                          daerah peristirahatan yang sejuk, nyaman, dan sepi. Jangan                          heran banyak vila cantik dibangun di kawasan itu.&lt;/p&gt;                       &lt;p align="justify"&gt;Pada 1920, Liem Sian Joe hijrah ke Negeri                          Belanda sehingga vilanya dipercayakan kepada ahli waris.                          Namun, karena jarang dipakai, vila itu kurang terurus.                          Kondisi ini berlangsung hingga masa kemerdekaan.&lt;/p&gt;                       &lt;p align="justify"&gt;Setelah masa revolusi, bangunan yang                          pernah disebut-sebut ‘paling tinggi di Jawa Timur’                          ini dijadikan rumah tinggal oleh beberapa keluarga. Tak                          jelas nama-nama penghuni vila, berikut bagaimana prosedur                          mereka mendapatkan hak pakai. Bisa ditebak, beberapa bagian                          bangunan menjadi kurang terawat. Mirip perilaku penghuni                          rumah susun di Tanah Air sekarang.&lt;/p&gt;                       &lt;p align="justify"&gt;Baru pada 1960 ahli waris Liem Sian Joe                          menjual bangunan itu kepada Ong Kie Tjay, pengusaha Tionghoa                          yang tinggal di Surabaya. Keluarga-keluarga yang menginap                          di ‘rumah susun’ itu hengkang, dan mulailah                          Baba Ong membenahi bangunan tua itu.&lt;/p&gt;                       &lt;p align="justify"&gt;Empat tahun kemudian, 1964, fungsi bangunan                          bertingkat lima diubah dari vila menjadi hotel dengan                          nama Hotel Niagara. Ongko Budihartanto, general manager                          sekarang, tak lain merupakan anak sekaligus ahli waris                          Ong Kie Tjay.&lt;/p&gt;                       &lt;p align="justify"&gt;Tak mudah mengelola hotel sekaligus bangunan                          cagar budaya yang dilindungi undang-undang itu. Persoalan                          utama, seperti diceritakan di atas, adalah citra bangunan                          yang sempat diberitakan negatif di masyarakat. Misalnya,                          tuduhan sebagai ‘rumah hantu’ hingga ajang                          bunuh diri. “Itu semua hanya isu dan omong kosong,"                          tegas Ongko Budihartanto.&lt;/p&gt;                       &lt;p align="justify"&gt;Selama 20 tahun lebih mengelola dan menetap                          di Hotel Niagara, Ongko mengaku belum pernah merasakan                          gangguan apa pun. Para tamu pun tak pernah mengeluhkan                          soal itu. Yang ada justru ungkapan-ungkapan positif tentang                          kehebatan serta keunikan Hotel Niagara. Kesan-kesan para                          tamu itu bisa terbaca di lorong-lorong hotel antara lantai                          satu dan dua, kemudian lantai dua dan tiga.&lt;/p&gt;                       &lt;p align="justify"&gt;Tak salah kalau para turis Belanda, yang                          datang untuk nostalgia itu, mengatakan Hotel Niagara ini                          unik dan antik. Sebab, menurut informasi dari beberapa                          sumber, keramik dinding dan bahan untuk lantai diimpor                          dari Belgia.&lt;/p&gt;                       &lt;p align="justify"&gt;Lift kuno merek ASEA merupakan produksi                          Swedia tahun 1900-an. Lantai terbuat dari teraso berwarna                          yang dicor di tempat, bahan baku impor. Bahan kayu untuk                          jendela, pintu, plafon, dan sebagainya terbuat dari kayu                          jati kelas satu.&lt;/p&gt;                       &lt;p align="justify"&gt;Persoalannya, seperti bangunan-bangunan                          tua lainnya, biaya perawatan tidak murah. Sementara jumlah                          kamar yang dioperasikan hanya 14 dari total 26 kamar alias                          hanya 50 persen. Bandingkan dengan hotel-hotel modern                          yang kamarnya berjumlah puluhan, bahkan ratusan.&lt;/p&gt;                       &lt;p align="justify"&gt;Bisa dibayangkan berapa pemasukan Hotel                          Niagara ini setiap bulannya. Namun, sebagai hotel tempo                          doeloe, antik, orisinil, Hotel Niagara punya nilai lebih                          yang jarang dimiliki hotel-hotel lain di Tanah Air.&lt;/p&gt;                       Ada baiknya pengelola Hotel Niagara mencamkan                          baik-baik pesan Henk Nos. Turis asal Belanda mengatakan,                          “Hotel ini monumen, harus dijaga dengan baik. Perlu                          renovasi dengan arsitek yang benar-benar ahli. Kalau itu                          dilakukan, Hotel Niagara jadi bintang seperti Hotel Raffles                          di Singapura.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6744593607148753084-6870209154401517821?l=lawangkota.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lawangkota.blogspot.com/feeds/6870209154401517821/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lawangkota.blogspot.com/2009/09/hotel-niagara-maskot-kota-lawang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744593607148753084/posts/default/6870209154401517821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744593607148753084/posts/default/6870209154401517821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lawangkota.blogspot.com/2009/09/hotel-niagara-maskot-kota-lawang.html' title='HOTEL NIAGARA - MASKOT KOTA LAWANG'/><author><name>Segala Sesuatu Tentang Kota Lawang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16372837825735224479</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6744593607148753084.post-8841783621167134811</id><published>2009-09-28T18:30:00.000-07:00</published><updated>2009-09-28T18:31:36.377-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Testing&lt;br /&gt;blog kota Lawang pendukung :&lt;br /&gt;web utama : http://www.kota-lawang.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6744593607148753084-8841783621167134811?l=lawangkota.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lawangkota.blogspot.com/feeds/8841783621167134811/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://lawangkota.blogspot.com/2009/09/testing-blog-kota-lawang-pendukung-web.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744593607148753084/posts/default/8841783621167134811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6744593607148753084/posts/default/8841783621167134811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lawangkota.blogspot.com/2009/09/testing-blog-kota-lawang-pendukung-web.html' title=''/><author><name>Segala Sesuatu Tentang Kota Lawang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16372837825735224479</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
